Jumat, 15 Februari 2008

Upaya Radikalisasi Islam di Aceh

Upaya Radikalisasi Islam di Aceh
(Komentar Terhadap Aksi Pembubaran Wisatawan Pantai Ujong Blang Aceh Utara)

Oleh : Wilda Sastra*


200-an pria berjubah dan mengenakan cadar penutup wajah, Minggu (25/6) kemarin pukul 14.00 WIB, membubarkan keramaian di Pantai Ujong Blang Lhokseumawe. Kelompok pria itu mengaku sebagai santri pesantren dari Aceh Utara dan Bireuen. Namun, ada sumber yang mengatakan mereka juga dari Aceh Timur. (Serambinews.com 26/6/2006)
***
Jika di Jakarta ada Front Pembela Islam (FPI) di Solo ada Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) yang konon disebut sebagai gerakan islam fundamentalis – radikal. Di Aceh baru-baru ini ada sekelompok orang mengatas namakan santri Pesantren. Mereka membubarkan pengunjung pantai Ujong Blang Aceh Utara dengan alasan memerangi maksiat. Sebagaimana FPI merupakan garis depan perjuangan memberantas kemaksiatan di Jakarta dan sekitarnya. Keompok Pria Berjubah (KPB) yang bergerak di Aceh adalah corak baru gerakan Islam radikal dimana kelompok tersebut berupaya membuat perubahan dan pembaharuan sosial dimasyarakat berdasarkan islam
***
Pro kontra seputar pembubaran wisatawan di Panatai Ujong Blang adalah hal wajar di dalam islam apa lagi dalam pandangan demokrasi. Ada yang menilai Pembubaran itu bentuk pengekangan terhadap masyarakat dalam mengisi hari libur. Kelompok peria berjubah (KPB)sendiri beranggapan pembubaran tersebut adalah demi teganya syraiat islam seperti yang diungkap salah seorang di antara rombongan berjubah,aksi yang dilakukan merupakan pengembangan syiar agama, serta memerangi perbuatan maksiat. Hal itu dilakukan dengan tujuan menolak bala sekaligus menegakkan Syariat Islam.(serambinews.com 26/6/2006)
Tinadakan ini bisa dianggap positif (walaupun belum bisa dibenarkan) mengapa, karena dalam islam dianjurkan ber amar ma’ruf dan nahi munkar (menagajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran) sehingga alasan pembubaran maksiat adalah benar.Namun ada hal-ha yang sering diabaikan dalam tindakan itu yaitu tidak adanya proses cek en ricek sebelumnya. Sebab tanpa meneliti kebenaran bahwa pengunjung pantai adalah sama dengan pengunjung Club Malam atau Discotik sehingga vonis maksiat menjadi kata akhir dalam penentu hukum wisata.
Begitu sempitkah islam mengekang kehidupan manusia ? Sehingga kegiatan wisata dianggap tabu . pembubuaran yang dilakukan kelompok pria berjubah konon mereka mengaku dari gabungan santri pesantren dari Aceh Utara dan Bireuen. Merupakan penomena baru dalam kehidupan ummat islam di Nanggroe Aceh Darussalam dimana gerakan-gerakan mengatasnamakan Islam atau institusi Pesantren semakin melebarkan sayap memberangus segala yang mereka anggap tabu(?), maksiat(?), dan lain yang semisal itu. Pertanyaannya sesuaikah tindakan itu menurut kaca mata islam sendiri ?
***
Isalam telah mengajarkan kepada ummatnya agar meneliti kebenaran suatu berita, pernyataan dan sikap kelompok santri pelaku pembubaran pengunjung pantai. , bahwa kegiatan wisata di pantai adalah maksiat adalah sikap yang kurang bijak serta terkesan berlebihan dan asal tuding . Bukankah dalam islam juga dianjurkan untuk mentadaburi alam, bukankah dalam islam tidak ada larangan untuk berlibur apa lagi di pantai. Sedangkan seringnya muda-mudi melakukan tindakan maksiat diwilayah tempat wisata pantai tidaklah dapat menjadi hujjah (alasan) membubarkan setiap kegiatan wisata pantai itu walau ada kewajiban mencegah tindakan maksiat. Karena maksiat juga dapat dilakukan di tempat lain seperti di sekolah atau kampus bahkan di Mesjid sekalipun lalu apakah sah-sah saja jika kita membubarkan sekolah atau perkuliahan dikampus bahkan orang yang sedang mengunjungi mesjid ?
Tetapi jika tindakan pembubaran pengunjung pantai berdasarkan bukti bahwa pelaku memang memanfaatkan untuk melakukan maksiat alangkah baiknya mencegah atau menindak pelaku maksiat itu sendiri tidak serta merta membubarkan kegiatan wisata tersebut karena Wisata tidak diharamkan dalam islam .Sehingga islam tidak terkesan sadis atau sempit untuk anak manusia dan dikhawatirkan Islampobia (ketakutan terhadap islam) bukan hanya menyerbu kalangan non muslim melainkan menyerbu ummat islam itu snediri.
***
Adanya indikasi saling klaim antara pemerintah dalam hal ini Dinas Syariat Islam dengan kelompok masyarakat atau kaum Pesantren tentang permasalahan maksiat. Dimana secara konstitusi hak pembubaran itu sebenarnya ada di tangan Dinas Syraiat Islam jika terbukti pengunjung pantai melakukan tindakan ma’siat. Namun kelompok masyarakat atau kaum santri adalah jelas tidak punya wewenang bertindak sendiri tanpa persetujuan pemerintah, secara moral dapat dibenarkan setiap individu apalagi kelompok secara bersama-sama memberantas ma’siat namun hendaknya memperhatikan etika dan perasangka buruk, tidak asal tuding sehingga tidak menimbulkan masalah baru dan ras takut dikalangan masyarakat.
Pentingnya memperhatikan etika karena islam adalah agama yang rahmat, sejuk tidak menakutkan. Sikap peria berjubah yang terkesan arogan mencoreng muka dengan cat serta memporak porandakan kursi meja tempat jualan makanan adalah gambaran buruk yang sengaja dicerminkan dan masih primitiv menambah panjang citra buruk islam.
Akhirnya sampai kapan kita menghukum manusia beralaskan keislaman? Sedangkan Islam sendiri tak merestuinya. Wallahu’alam

Penulis adalah : Mahasiswa UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


OPINI

MUHAMMADIYAH DARI POLITIK PRAKTIS KE POLITIK ADILUHUNG

Oleh : Wilda Sastra

A. Iftitah

Sejarah Singkat Pendirian Persyarikatan Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .

Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.

Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.

KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.[1]

Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi masyarakat non politik, Organisasi ini telah menjadi acuan dasar operasional Negara Indonesia ini. Mengapa demikian, muhammadiyah telah menanamkan prinsip-prinsip administrasi dalam sebuah Organisasi sebelum Negara ini terbentuk. Muhammadiyah juga telah menerapakan pembangunan yang berkelanjutan berbasis mental, spiritual dan financial.

Pembangunan masyarakat dilakukan sampai saat ini dengan berbagai bidang dan program yang dikomandoi langsung oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah dalam berbagai Departemen atau Badan Otonom dan Majlis - seperti adanya Majlis Pendidikan dan Ekonomi serta menjamurnya Amal Usaha Muhammadiyah yang melayani kepentingan masyarakat umum di seluruh Indonesia.

Dari sekian prestasi diatas, ada permasalahan yang selalu mengancam kesolid an sebuah organisasi besar Muhammadiyah. Yaitu adanya muncul fragmatisme sesaat dikalangan petinggi Muhammadiyah - yaitu sikap politik petinggi Muhammadiyah yang sering condong diterpa angin politik praktis sementara itu organisasi Muhammadiyah secara konstitusi internal oganisasi mengedepankan perinsip politik untuk dakwah bukan dakwah untuk politik- hal ini jelas tergambar dalam matan keperibadian Muhammadiyah- disamping sebagai grakan Islam dan gerakan Tajdid, Muhammadiyah menekankan diri sebagai gerakan dakwah. Segala kegiatan dalam bidang pendidikan, social, termasuk politik diselenggarakan untuk kepentingan dakwah. [2]

Muhammadiyah punya slogan yang menarik “hidup hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah” ungkapan KH.Ahmad dahlan ini memiliki arti yang sangat mendalam sesungguhnya bila kita kaitkan dengan isu kontemporer adalah prinsip high politic yaitu politik tingkat tinggi atau politik Adiluhung yang pernah dicetuskan oleh Amien Rais sangat layak untuk menangkal permasalahan-permasalahan intress politic dikalangan petinggi Muhammadiyah saat ini.

B. Muhammadiyah Dari Politik Praktis Ke Politik Adiluhung

  1. Indikasi Politik Praktis Muhammadiyah

Menurut Din Syamsudin : Keterlibatan Muhammadiyah dalam politik bermula dari penghadapan Muhammadiyah dengan persoalan politik yang merupakan suatu keniscayaan. Keniscayaan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa pencapaian suatu cita-cita non-politis sekalipun tidak mungkin tanpa melalui kegiatan politik (politicking) [3].

Adanya indikasi Muhammadiyah melakukan kegiatan politik praktis terjadi pada masa Muhammadiyah dipimpin oleh K.H. Mas Mansur (1938 – 1940) dalam sistematisasi dan formulasi ideology Muhammadiyah Bru diadakan pada masa kepemimpinan K.H.Mas Mansur – sering disebut sebagai ideology Muhammadiyah – yaitu dirumuskannya “ Langkah-Langkah Muhammadiyah” / Garis-garis Besar Haluan Organisasi.

Setelah dibuat rumusan di atas maka Muhammadiyah semakin percaya diri dalam memerankan politik, Namun perlu dicatat –disebabkan pada waktu itu pemerintah colonial Belanda melakukan “Politik Aliansi” yakni mengasingkan ummat islam dari kegiatan politik. Contoh ; ummat Islam hanya diwakili oleh seorang wakil dalam VOLKSRAAD (DPR sekarang) Dari 60 anggota Volksraad , hanya 30 orang dari warga Indonesia, 25 Eropa, 5 lain-lain. Dengan perincian : terdapat 5 orang perwakilan dari Partai Sekuler Parindra, 3 orang perwakilan dari Pegawai Negeri, 3 orang perwakilan dari Khatolik /Protestan dan 1 orang perwakilan dari Islam.[4]

Bila kita kaitkan pendapat Din Syamsudin diatas dengan realita sejarah politik Muhammadiyah pada kepemimpinan K.H.Mas Mansur ( 1938 – 1940) adalah jelas sebagai indikasi bahwa Muhammadiyah pernah mengalami gejala politik praktis. Hal ini terlihat dari kelanjutan K.H. Mas Mansur dalam memperakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia setelah sukses membuat garis-garis besar haluan organisasi Muhammadiyah.

  1. Isu Kotemporer Politik kalangan Muhammadiyah

Polemik Aktivitas Dakwah Kampus (mirip PKS) di PTM

Ada yang menarik ulasan polemic para petinggi Muhammadiyah dibahas dalam dua majalah terbitan PP Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah misalnya menyebarkan ”kalam-kalam” para petinggi Muhammadiyah menganggap aktivitas Lembaga Dakwah Kampus LDK di Perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai tindakan perebutan lahan dakwah Muhammadiyah, bahkan ada yang lebih extreme lagi menganggap aktivitas lembaga dakwah kampus tersebut merupakan sayap Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sehingga dari wacana yang disebarkan bahwa secara terselubung PKS telah menggarap lahan dakwah Muhammadiyah melalui kegiatan dakwah kampus (yang kebetulan banyak dilakukan oleh kalangan simpatisan PKS) di Universitas Muhammadiyah Prof.Hamka misalnya, telah membekukan kegiatan dakwah kampus.

Lebih menarik lagi, ketika wacana itu diangkat di Suara Muhammadiyah maka bagai pertarungan sengit ada balasan serangan dari Majalah Tabligh yang kebetulan juga diterbitkan oleh PP Muhammadiyah yang berbasis di Jakarta. Perseteruan itu semakin lama makin merembet ke bawah, perang opini antar dosen, antar mahasiswa . Dalam majalah Tabligh misalnya ditegaskan bahwa gerakaran Tarbiyah (PKS) bukanlah Ideologi berbahaya yang perlu ditakuti, majalah Tabligh sebagai majalah Muhammadiyah terlihat lebih objektif dalam menilai permasalahan dari pada Swara Muhammadiyah yang cenderung subjektif.

Saya sepakat dengan pendapat Pak Drs.Almisar.M.Si dalam opininya di majalah Tabligh pada edisi yang sama - bahwa persoalan aktivitas dakwah Harakah di lingkungan PT Muhammadiyah hanyalah ”kejengkelan” para aktivis partai tertentu dikalangan Pengurus Muhammadiyah semata.

Din Syamsudin : Antara Muhammadiyah,PDIP dan PKS

Jelang PILKADA DKI Jakarta 2007 yang lalu seakan menjadi ujian berat bagi kader dan simpatisan PKS, juga menjadi ujian para Petinggi Muhammadiyah kader dan simpatisannya. Disana ada tarik menarik kepentingan, ada pemburukan citra kelompok tertentu, ada penghujatan, ada prasangka buruk. Semua itu bukan saja menghinggapi para politisi yang jelas mempunyai kepentingan politik. Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin secara tegas menuding adanya pemanfaatan fasilitas sarana ibadah oleh partai politik tertentu, walau sedikit malu-malu Din Syamsudin tidak menyebutkan partai politik mana yang melakukan tindakan itu, akhirnya terungkaplah bahwa partai yang dimaksud oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu adalah Partai Keadilan Sejahtera (seperti yang dikutip Harian Sinar Harapan).

Saya semakin tidak mengerti cara pandang beliau, hanya berdasarkan mendominasinya kader PKS dalam jama’ah mesjid lalu ini dianggap sebagai tindakan politisasi sarana ibadah. Pertanyaan kita, apakah kader PKS tidak punya kewajiban untuk berjamaah di mesjid sebagaimana halnya para warga Muhammadiyah yang terlibat dalam partai politik? Lalu apakah PKS tidak direstui untuk bergiat dalam dakwah sebagaimana PDIP menggunakan Baitul Muslimin sebagai sayap pergerakan partai politik yang secara langsung Din Syamsudin ikut terlibat? Apakah Pak Din Syamsudin setuju dengan ungkapan “PDIP Yes.., PKS no…” semoga semua pertanyaan-pertanyaan itu terjawab dengan jernih sejernih cara berfikir Prof. Din Syamsudin dan saatnya Muhammadiyah benar-benar bersih dari Politik Praktis.[5]

  1. Ketika Muhammadiyah Memilih Politik Adiluhung

Terlepas dari berbagai isu diatas dan kemelut politik praktis masa lalu Muhammadiyah, dan matan Keperibadian Muhammadiyah yang berbunyi : “disamping sebagai grakan Islam dan gerakan Tajdid, Muhammadiyah menekankan diri sebagai gerakan dakwah. Segala kegiatan dalam bidang pendidikan, social, termasuk politik diselenggarakan untuk kepentingan dakwah” saya coba menghubungkan kutipan matan ini dengan wacana politik tingkat tinggi (hight politic) yang dicetuskan oleh Amien Rais ternyata matan ini bisa menjadi multi tafsir dan tergantung siapa dan bagaimana kebijakan yang diambil oleh pimpinan Organisasi Muhammadiyah itu sendiri.

Sebagaimana halnya Amien Rais yang secara gambalang mengikuti kegiatan politik praktis pasca tumbangnya pemerintahan Soeharto 1997 lalu (era reformasi) beliau mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) setelah beliau tidak menjadi bagian pengurus (struktur Organisasi Muhammadiyah) sehingga kegiatan politik kalangan warga atau elit Muhammadiyah berada di luar lingkaran Organisasi Muhammadiyah.

Atau sikap Prof. Din Syamsudin selaku Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa Partai Matahari Bangsa (PMB) bukan bagian dari Organisasi Muhammadiyah patut kita acungi jempol walau terjadi paradoks ketika beliau dengan suka rela menjadi salah satu pengurus Baitul Muslimin sebagai salah satu sayap Partai Politik PDIP- apakah ini bagian dari politik adiluhung nya Pak Din, atau langkah “megap-megap” dalam politik praktis. Wallahu ‘alam.. bishowab. Tentunya kita setuju dengan pendapat Pak Amien Rais bahwa jika politik praktis dilakukan dalam sebuah organisasi non-politik maka akan menimbulkan perpecahan. Na’uzubillahi min zalik.

C. Kesimpulan

Saya berpendapat bahwa Muhammadiyah tetap tidak menjadi organisasi politik (praktis) dikarenakan adanya pertimbangan yang bersifat sosiologis, Muhammadiyah tidak menjadi organisasi politik merupakan refleksi teologis.

Referensi :

1. Majalah Tabligh

2. Swara Muhammadiyah

3. Makin Lama Makin Tjinta oleh Ir. Sukarno

4. Beberapa Surat Kabar

5. Kemuhammadiyahan (mata kuliah)

6. Muhammadiyah Kini dan Esok, Din Syamsudin. Et all

7. www.muhammadiyah.c

8. www.weelsastra.multiply.com



[1] Diambil dari situs resmi PP Muhammadiah www.muhammadiyah.or.id

[2] Dalam publikasi PP.Muhammadiyah, Matan Keperibadian, Jogajakarta, 1978

[3] Lihat pendapat Din Syamsudin dalam Muhammadiyah Kini dan Esok hal.. 169

[4] Office of Strategic Services, Political Parties and Movements in the East Indies (washingtong D.C 1945) hal 74 dikutip dari Muhammadiyah Kini dan Esok, Din Syamsudin hal ..169

[5] Lengkapnya lihat website ku ; www.weelsastra.multiply.com/blog/

Tangisan Itu Nikmat

Oleh : Wilda Sastra Sholien

Aku menjadi manusia sepi ditengah keramaian. Menjadi terasing dalam kemajmukan. Aku selalu berfikir “ seharusnya” begini dan begitu. Seharusnya tak ada lagi musik jika hati mampu menjadi pelipurlara. Seharusnya tak adalagi tangis kalau sudah ada canda tawa.

Aku bagai lupa dengan hukum alam, lupa garis keputusan bahwa segala sesuatu memang berpasangan. Ternyata aku juga pelaku tangis tawa, pengagum syair dan musik itu.

Kumencari titik putih dari hitam gelapnya alam pikiran, mencari jalan setapak dari semerautnya permasalahan. Mencari makna sebuah peristiwa yang terlewatkan hakikatnya. Aku punya cerita yang aku yakin semua kita pernah mengalami hal yang sama minimal pernah menyaksikan atau sekedar tau dari cerita teman. Tangisan ibuku. Atau bisa tangisan ibumu dan ibu kita. Ibu menangis melepas kepergian anaknya melanjutkan pendidikan ke negeri seberang. Kita mafhum tangisan itu memedihkan perasaannya, tangisan itu sebuah pengakuan cinta dan kerinduan, tangisan sebuah pengharapan kembali bertemu, tangisan itu bagai doa yang mengiringi dengan sejuta dukungan dari dalam hati terucap melalui titik-titik bening air mata. Ibu pun meluapkan tangisnya. Dalam penantian ibu masih sempat menangis dalam setiap melihat senyum ia teringat senyum anaknya, tangisan itu berhimpun dalam isakan sedih ditengah malam yang hening terpanjat doa bukan karena khawatir tapi karena rindu yang berlumur cinta kasihnya. Akhir dari perpisahanpun tiba,si anak kembali dengan selamat. Apakah yang akan dilakukan Ibu? Ia berteriak memanggil nama anaknya, lalu merangkul sianak penuh keharuan memecah hening qalbunya sendiri. Senyum ibu terpancar seketika terhenti dengan tangisan, ibu menangis kembali dalam akhir perpisahan walau ia tak tersakiti. Ada apa dengan tangis….?

Sebaiknya sebagai manusia pantas untuk membuka mata bathin dengan membiarkan sejuta kesegaran yang hilang oleh ke egoisan, mata bathin hampir berkarat tak pernah tersentuh lembut sejuk basuhan makna. Sadarkah berapa banyak air mata suci keluar dengan kepolosannya? Menangis bukan karena dipaksa dan berderai bukan meninggalkan luka. Ia keluar meninggalkan kelegaan dalam, ia lambang kepasrahan yang hakiki. Ia sebuah pengakuan akan kelemahan insan.

Tangis bukanlah gambaran penderitaan semata, ia juga luapan kebahagiaan yang tak terbendung. Tangisan bagai luapan lahar yang menyuburkan. tangis adalah puncak kepasrahan. Tangis sebagai pengakuan betapa lemah diri, betapa tak kuasa menahan sakit dan bahagia. Sakit perih bahkan penderitaan dan kebahagiaan adalah bumbu penyedap kehidupan ini.

“wuuuuw……ha..ha…………”

Sejenak aku mentertawakan diri, betapa tak warasnya aku ketika tak sanggup untuk menangis. Aku tak kuasa mengakui kelemahan, aku egois, bahkan aku mentertawakan orang yang menangis. aku penderita yang bebal dalam ketidak tahuanku akan hakikat tangis.

Saudaraku, jika tak sanggup untuk menangis maka tertawalah selepasnya. tertawakanlah diri sendiri jangan mentertawakan orang lain sebelum dirimu ditertawakan.

Saudaraku, menangislah dalam kesempurnaanmu,tarik nafas perenungan dalam, terisak pilu dalam keheningan derita, merintih dalam kegalauan dan kealfaan perasaan, berteriak dalam gempita kebahagiaan hingga air pembasuh lara itu memancar ikhlas membasuh keegoisan, menghela lembut deritamu, memecah kesombongan yang membatu. Nafas terisak akan memberimu nafas baru dengan kesegarannya. Niscaya engkau sadar betapa luas nikmat Tuhanmu walau hanya tangisan yang kau peroleh.

Cirendeu , 17 November 2007

Bersama B.J.HABIBIE

Bersama B.J.HABIBIE
Mr. W.S.Sholien di antara Mereka

PARA KOMANDAN KAMSAS-J

PARA KOMANDAN KAMSAS-J
Sapri TB And Bang Alie

SELAMAT DAN SUKSES

SELAMAT DAN SUKSES
Zakaria Solien Spd.I

indahnya kebersamaan

indahnya kebersamaan
bersama Sang Jurnalis